Followers

Powered by Blogger.

Saturday, May 21, 2011

Nggak Virgin Nggak Ok!

musicgaulislam edisi 148/tahun ke-3 (13 Ramadhan 1431 H/ 23 Agustus 2010)

Sori Bro, di bulan puasa gini ane kudu nulis masalah virginitas. Sekali lagi harap dipersori ya. Soalnya ente kan juga puasa. Khawatir kalo bahas ginian jadi langsung ngerumpi deh ama temen-temen ente ngomongin soal ini, ujung-ujungnya bukan buka bersama tapi batal puasa bersama. Padahal kan kalo puasa kata temen ane nih, kudu ngomongin atau bahas seputar puasa dong. Tapi ane sih berpikirnya sederhana aja. Nggak ada larangan kok kalo kita bahas tema selain puasa meski lagi bulan Ramadhan. Iya nggak sih? Sebab, yang penting isinya ngajak kepada kebaikan, ada pesan takwanya, ada pesan sponsor dari Islam sebagai ideologi kita. Ok? Sip deh.

Tulisan di buletin gaulislam edisi ini sengaja ane pilih dengan tema virginitas. Sebabnya, sekarang banyak remaja putri yang lemah iman dan pergaulannya naudzubillah udah menganggap bahwa virginitas bukanlah hal penting. Ada sayup-sayup terdengar sampai ke meja redaksi nih, bahwa banyak remaja putri (di Bandung khususnya) yang berprinsip: “Virgin nggak ok!” Waduh, berarti itu artinya ngeledekin yang masih virgin dong ya. Makin bermasalah karena yang ngomongin adalah remaja putri yang masih duduk di bangku SMA. Naudzubillah banget deh. Wajar kalo sekarang angka aborsi meningkat, karena pergaulan bebasnya juga makin marak. Nggak heran kalo kehamilan tak diinginkan kian sering terdengar beritanya, karena banyak remaja putri yang gampangan diajak berzina. Jangan kaget kalo “keong racun’ berkeliaran karena “tokek racun”-nya juga gampang dicari. Hehehe.. sori bukan ane latah ikutan trennya si Jojo ama Sinta, tapi nih fakta emang bikin miris, Bro en Sis. Ente semua pada paham deh kayaknya.

Sobat muda muslim, mengapa banyak remaja yang tak lagi menghargai dan merasa harus peduli dengan kehormatannya? Hmm.. susah juga ane menjawab nih. Tetapi sejauh yang ane terawang, nih masalahnya ada pada banyak faktor, baik faktor internal anaknya itu sendiri, juga faktor eksternal dari keluarga, lingkungan dan pergaulannya secara umum. Problem besar dan berat, Bro. Tak semudah menggulingkan traktor.

Jaman ane sekolah dulu (duluuuu banget), sebelum internet marak dan stasiun televisi jumlahnya bejibun seperti saat ini, fakta bahwa ada pergaulan bebas sampe seks bebas sudah ada lho. Meski tak semarak sekarang. Jujur aja ane kaget baru-baru ini saat ngisi ekskul [menuliskreatif] di sebuah sekolah dasar, peserta ekskul yang cowok—tentu masih bau kencur alias belum baligh—malah lancar nyeritain kasus video mesum bin porno selebritis (nih anak sering nonton infotainment kali ye?). Seorang siswa lainnya malah dengan sangat atraktif menceritakan praktik pacaran—konon dia menceritakan itu kisah teman-temannya . Hmm.. masih SD gitu, lho. Astaghifrullah aladhim.

Bro en Sis, kasus anak SD yang nyerocos soal berita video porno dan soal pacaran itu ketika mereka ane minta menceritakan kisah apa saja yang pernah dialami atau yang berkesan dimana nantinya kisah-kisah itu bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Di luar dugaan mereka ternyata melahap juga informasi yang berkaitan dengan info-info yang betebaran di media massa. Waduh, berarti tugas orang tua makin berat aja nih, terutama untuk melindungi anak-anaknya agar tidak terkontaminasi dari virus liberalisme saat ini. Khususnya dari informasi yang tak layak dikonsumsinya. Sebab, gimanapun juga, hal itu akan mempengaruhi kepribadian mereka.

Internet ‘memicu’ maraknya gaul bebas

Teknologi informasi sebenarnya nggak salah-salah amat. Sebab, yang salah adalah yang menggunakannya untuk penyimpangan. Adanya internet memang bagai pisau bermata dua: untuk menunjang kebaikan, juga bisa sekaligus menjadi jalan keburukan. Bahkan sangat boleh jadi efeknya lebih dahsyat.

Teknologi internet ini juga bukan berarti steril dari informasi asusila. Apalagi kebebasan berinternet di banyak negara memang nggak dibatasi. Itu sebabnya, informasi macam pornografi juga hadir di internet. Bahkan pornografi di internet lebih parah lagi. Karena bebas diakses dan privasinya lumayan terjaga. Bisa diam di kamar, nyalakan komputer langsung konek ke internet. Bisa juga pergi ke warnet. Bisa dikunjungi kapan saja. Tentu selama servernya nggak ngadat. Meski jaraknya jauh sekalipun. Itu sebabnya, internet ini ibarat kampung besar. Situsnya ada di Amerika, tapi bisa diakses dari Bogor. Mudah, cepat, murah pula. Gambarnya bisa di-download, isi ceritanya bisa di-save. Nah lho.

Sori ye, ini bukan ngajarin atau ngasih tahu supaya melakukan kunjungan ke situs “begituan”. Sekadar ngasih info bahwa kalo berburu informasi yang bermanfaat sama cara kerjanya dengan berburu informasi sampah. Cara kerja sama, isinya yang beda. Pilihan tentu ada di tanganmu. Lengkap dengan konsekuensinya dong, Iya nggak? Cuma masalahnya, apa pantas kita sebagai Muslim jadi pelanggan tetap situs porno?

Maraknya situs porno, tentu menjadi tambang uang bagi pengusaha yang menginvestasikan duitnya di bisnis situs porno itu. Untuk pengelola situs porno yang serius, mereka memang jual-beli. Entah gambar atau video porno dari internet. Pengguna internet tentu kudu bayar.

Yup, kini teknologi itu dalam genggaman. Ponsel kini bukan sekadar untuk SMS-an dan nelepon doang, tapi sudah bisa untuk internetan. Bisa nyari teman di dunia maya melalui situs jejaring sosial, misalnya. Tentu hal ini berpeluang memberikan efek samping yang negatif.

Kalo dulu orang harus susah payah ngintip dengan mata langsung ke kamar mandi untuk melihat orang yang sedang mandi demi memuaskan nafsu seksnya, kini kamera pengintai bisa mempermudah. Bahkan saking canggihnya ponsel berkamera dan mampu merekam, kita malah bereksperimen dengan benda itu untuk membuat klip video. Termasuk video porno sekali pun. Celaka lagi jika kemudian ditransfer ke komputer via bluetooth atau kabel USB, dan selanjutnya klip porno itu, atau foto pose syuur itu, akan berseliweran di dunia maya dan bisa diakses oleh banyak orang.

Oke, nafsu mesum memang nggak berubah. Sejak dulu udah ada. Tapi kini sarana untuk mengekspresikannya udah sedemikian canggih, sehingga sangat membahayakan. Jelas, ini udah mengubah gaya hidup kita.

Sobat, tentu saja nggak semua hasil perkembangan teknologi ini buruk. Banyak juga beragam kebaikan yang bisa dicapai dan diraih berkat teknologi informasi lengkap dengan perubahan gaya hidupnya. Seperti misalnya memanfaatkan teknologi ponsel dan internet untuk berdakwah. Jelas hal itu udah mampu merevolusi cara kita berkomunikasi dalam meyampaikan dakwah dan mengubah gaya hidup kita dalam menikmati teknologi komunikasi tersebut untuk kebaikan. Tapi anehnya, mengapa lebih banyak orang bereksperimen menggunakan teknologi ini untuk hal yang buruk dan maksiat? Ah, di sinilah perlunya faktor keimanan dan akidah Islam yang kuat. Iya nggak, Bro? Yup, emang kudu kuat menahan godaan yang nyaris setiap hari kita dapatkan.

Jangan dekati zina

Allah Swt. menegaskan pengharamannya dalam firmanNya (yang artinya): “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-orang yang bertaubat …” (QS al-Furqan [25]: 68-70)

Sobat, dalam kamus virgin itu bermakna keperawanan. Artinya, tak pernah melakukan seks. Dalam Encarta Dictionary Tools misalnya, virgin diartikan sebagai: somebody, especially a woman, who has never had sexual intercourse.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perawan adalah: belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; masih murni (tt anak perempuan). (KBBI, 2003, hlm. 855)

Boys and gals, dari pengertian menurut kamus tersebut, tentunya kita harus berhati-hati dengan kelamin kita. Nggak boleh diobral dan dijajal or diujicoba sebelum waktunya, yakni sebelum menikah. Pemuasan hawa nafsu melalui kelamin masing-masing hanya halal setelah adanya pernikahan di antara kalian. Kalo belum terikat pernikahan? Itu namanya perzinaan. Dosa besar. lho.

Dalam sebagian jalan (riwayat) hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi saw. bersabda: “Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berzina.” Ih, naudzubillahi min dzalik.

So, sebenarnya yang nggak ok tuh yang nggak virgin. Islam sangat menghargai kehidupan manusia. Maka, dalam kehidupan cowok-cewek ada aturannya yang jelas dan ketat. Kalo sekarang ada sebagian remaja putri yang terjun bebas mengobral keperawanannya (dan tentu saja dalam waktu yang bersamaan anak cowok udah ngobral keperjakaannya), ini udah musibah besar, Bro. Jangan sampe terjadi lebih banyak lagi yang seperti itu. Jangan punya prinsip kepalang basah sehinga teriak: “virgin nggak ok!”. Tapi sebaliknya hrus berani bilang: “nggak virgin nggak ok!” Sip deh! [solihin: osolihin@gaulislam.com]

http://www.gaulislam.com/nggak-virgin-nggak-okhttp://freedownload125z.blogspot.com/internet/

Orang Tua Tercinta

Segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT, sang maha pengasih yang masih memberikan keberkahan sehat dan umur panjang kepada kedua orang tua kita.

Orang tua, adalah pahlawan sejati dalam hidup kita. Dengan perantara merekalah kita hadir di dunia. Karena jasa merekalah kita sekarang dapat hidup layak seperti sekarang ini. Karena pengorbanan merekalah kita dapat berani menghadapi dunia dengan segenap kemampuan dan ilmu yang kita miliki.

Masih ingatkah kita ketika kecil dulu, seakan akan semua yang terbaik hanyalah diberikan untuk kita. Ayah yang bekerja tanpa kenal lelah demi memenuhi kebutuhan anak anaknya, ibu yang setiap pagi dan malam merawat dan menjaga. Ibarat nyamukpun yang menggigit atau melukai tubuh kitapun mereka tidak akan membiarkannya. Tidak ada kata lelah dari mereka demi kebahagiaan anak anaknya, tidak ada kata “tidak” demi permintaan dan kebahagiaan kita. Bahkan jika perlu kesusahan yang timbul akibat memperjuangkan kebahagiaan kitapun mereka rela melakukannya. Kecukupan kebahagiaan seorang anak, itulah yang membahagiakan para orang tua. Maka tidaklah mengherankan jika Allah Azza Wa Jalla menyebutkan bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa yang sangat besar.

Dan kini.. pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita sudah bisa membalas semua kebaikan mereka? dan apakah semua yang kita berikan untuk mereka sudah layak disebut sebagai balasan yang setimpal?

Memang tidak akan ada balasan yang bisa dikatakan pantas untuk mengimbangi berbagai pengorbanan orang tua, walaupun kita telah mencoba seumur hidup kita.

Mungkin masih ada dari kita yang merasa kurang beruntung karena memiliki orang tua yang kurang pas dengan “selera” kita. Memang orang tua tetaplah manusia, yang tidak akan pernah sempurna. Dan mugkin juga karena itu kitapun pernah merasakan kecewa pada sikap dan kekurangan mereka. Namun percayalah, hati nurani setiap orang tua hanyalah ingin selalu melindungi kita dan menempatkan kita pada sebaik baik tempat dan keadaan, walaupun pendapat dan sikap memang mereka tidak sepenuhnya selalu benar.

Dalam segala situasi pun, orang tua tanpa diminta mengalahpun, mereka akan mengalah demi anak anaknya, dan setiap orang tua yang baik, tidak akan mengharapkan balas jasa dari anak anak mereka, walau mereka melihat kesuksesan telah menjadi bagian hidup anak anak mereka. Namun kita sebagai seorang anak yang seharusnya mengerti tentang balas budi, diharapkan dapat sedikit membantu mereka dalam menghabiskan sisa usia mereka dengan memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan tidaklah selalunya dengan harta, pada usia mereka, perhatian dan kasih sayang dari anak anaknya adalah pengobat yang sangat manjur dari semua kesepian yang menghinggapi mereka dimasa tua.

Di masa ini adalah saat mereka “menitipkan” hidup kepada anak- anak mereka. Para orang tua sebenarnya tidak akan pernah meminta ataupun memohon dan apalagi merepotkan kepada anak anak mereka dengan berbagai kelemahan yang hadir dimasa tua. Kalaulah dapat, mereka pasti akan mau hidup mandiri dan sudah cukup merasa senang melihat kesuksesan anaknya, walaupun mereka tidak ikut menikmati. Namun keterbatasan mereka sebagai manusia mengharuskan mereka membutuhkan bantuan, dan siapa lagi yang seharusnya membantu dan memanjakan mereka, tentu saja anak anak mereka. Bukankah mereka juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik, kepada kita sewaktu kita kecil?

Subhanallah, bisakah kita mencintai mereka seperti mereka mencintai kita? atau jangan jangan yang terjadi malah sebaliknya? harta dan amanah dunia yang hanya sebentar dititipkan kepada kita ini, telah menggiring kita jauh dari mereka?

Mari kita temukan jawaban sejujurnya dalam diri dan hati nurani kita masing masing…

(syahidah)